Selasa, 31 Januari 2012

Angry, Crangky, Crazy tidak Cozy

Satu minggu ini saya sedang sibuk mencari semacam artikel ringan tentang angry management, tentang bagaimana sebab musebabnya dan tentu saja bagaimana solusinya buat saya. Benar itu buat saya kok, saya pernah dengar ada kelasnya bahkan lebih tepatnya konselingnya dan saya merasa membutuhkannya. Saya merasa harus memanejemeni kemarahan saya agar tidak berlebihan mengingat bisa saja saya menimbulkan konflik lain berujung penyesalan tapi tetap meninggalkan kelegaan tanpa memendam kejengkelan. 

Oh ya, perlu barangkali sedikit penjelasan tentang saya bahwa saya adalah orang yang baik (kebanyakan) orang, sabar tidak pernah meng-klakson pengendara lain meski terjepit kemacetan, saya sadar antrean, membuang sampah pada tempatnya, tidak suka hutang, gampang iba,,,,,,(apalagi kalau nonton film drama salah satu aktornya mengalah karena ternyata dirinya adalah duri tidak dicinta T.T) , saya bisa diajak kompromi kok (halah haha :), well saya,,,,,mhmm kembali saja deh di awal sebut saja baik (kebanyakan) orang.

Hanya hidup sendiri kadang abnormal. 

Minggu lalu saya di rumah sakit selama 6 jam, mondar-mandir sendiri tidak sendiri, makasudnya tidak hanya saya sebenarnya, tapi orang yang ada bersama saya tidak cukup membantu, malah telinga saya menangkap memerintah padahal saya tidak berkepentingan bahwa saya seharusnya tidak ada disana. Saya ingin bilang, bukan urusan saya, jadi jangan pernah meninggikan suaranya di depan saya. Perilaku saya berlatar tidak habis pikir bahwa orang-orang yang seharusnya ada dan bertanggung jawab terhadap orang yang saya urus ini semuanya tidak peduli. Rasanya akan suka sekali saya membentak orang ini yang so bossy. Haha..

Berawal dari sana dan seminggu ini jadwal kerja saya yang edun, membuat saya kurang jadwal tidur, badan merasa tidak fit, dan disanalah muara asal saya perlu bantuan untuk menetralisir. Saya merasa mempunyai konflik internal di mana saya ingin meledak, duerrrrrr, ingin menangis tp belum ketemu moment (he...), yang pasti saya merasa sensasi marah itu seperti apa. Ada gerakan geraham bertautan yang ikut andil, selain kepala mendidih, dan tentu tidak nyaman sekali. Kalaupun saya macam orang baik, ah tidak lagi sedang marah. Adik saya sering menggoda saya bahwa saya seperti monster menakutkan, ibu saya membenarkan, dan menambahkan bahkan ketika saya marah hanya diam. OMG, padahal diamkan masih bagusan ya dibanding mengatakan hal yang jelek ya? hahaha pembenaran saya saja. Tau dah!!!!

Membaca beberapa artikel tentang manajemen marah entah itu ulasan secara psikologis ataupun agama, membuat saya sedikit berkesimpulan bahwa manajemen marah itu diperlukan bukan hanya untuk seorang pemarah saja, tapi saya pun yang kesehariannya tergolong baik pun memerlukanya. Hidup yang mulu kebanyakan tidak seperti yang diharapakn, menemukan orang-orang yang menjengkelkan, peristiwa yang tidak menguntungkan, apes berturut-turut akan menguji jua pada emosi kita untuk memicu marah,  Emosi bereaksi terhadap apa yang kita hadapi, marah adalah bentuk penolakan pertama biasanya. 

Saya tidak akan mengulas banyak tentang manajemen marah, karena tidak banyak yang saya ingat, tapi sesekali saya rekomendasikan baca mengapa? Karena marah sendiri hampir selalu membuat keputusan yang pendek dan kebanyakan tidak reasonable lagi. Seperti arus pendek sebuah listrik yang bisa saja berkompeten membuat kebakaran.

 Terakhir : Angry, Crangky, Crazy tidak Cozy

0 komentar: